Posted by : Anonime
Selasa, 11 November 2014
Android pada era sekarang ini memang sudah dikenal
oleh hampir semua kalangan masyarakat di dunia, terlebih lagi di Indonesia.
Bahkan sudah menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat terpisahkan dari
keseharian kita. Sistem Operasi atau yang sering dikenal dengan istilah
Operating System (OS) pada Android ini
sangatlah unik dan mampu memberi kemudahan pada penggunanya, itulah salah satu
faktor mengapa Android menjadi pilihan tiada duanya. Tapi tahukah anda
bagaimana asal muasal Operating System pada Android ini diciptakan sehingga
banyak orang menjadikannya sebagai pilihan terbaik?
Pada dasarnya, Android merupakan salah satu OS yang
berbasiskan Linux, salah satu pesaing berat Microsoft. Ia sengaja dibuat untuk
melengkapi sistem operasi yang ada pada gadget-gadget touchscreen seperti
smartphone dan tab. Perusahaan Android, Inc. lah yang pertama kali
mengembangkan sistem operasi ini dengan suntikan dana dari Google. Pada tahun
2005, pihak Google akhirnya bersedia membelinya dan kemudian di tahun 2007 OS
ini diluncurkan secara resmi. Telepon genggam pertama yang memakai sistem
operasi Android telah dijual pada tahun 2008 bulan Oktober.
Android, Inc. berdiri di kota Palo Alto, salah satu
kota terkenal di California (USA), tepatnya pada bulan Oktober tahun 2003.
Pendirinya terdiri dari tiga orang yang ahli dalam bidang pengembangan
aplikasi, mereka adalah Andy Rubin, Rich Miner, dan Chris White. Pada mulanya,
mereka mengembangkan Android untuk perangkat elektronik sejenis kamera digital.
Tapi, karena permintaan konsumen terhadap perangkat itu tidak terlalu banyak,
akhirnya mereka mengalihkannya ke ponsel smartphone yang sudah diketahui besarnya
peluang jika dapat diterapkan pada perangkat ini. Tidak seperti sistem operasi
lainnya, OS ini dikembangkan secara diam-diam meskipun dibuat oleh orang-orang
yang ahli dalam pengembangan aplikasi. Tanggal 17 Agustus 2005 Google mulai
mengakui keberadaan Android dengan membelinya secara penuh dan menjadikan salah
satu produk unggulannya. Salah satu faktor keberhasilan Android sebagai sistem
operasi adalah terbukanya Google terhadap perangkat lunak yang diperbolehkan
masuk (Open Source). Selain itu, Android juga telah
mempunyai komunitas developer aplikasi tersendiri yang dapat meningkatkan
fungsi perangkat seperti game android misalnya
dan mungkin saat ini sudah lebih dari sejuta aplikasi yang bisa dioperasikan
melalui Android, dan Google Play menjadi apps shop utamanya. Di sana banyak
sekali aplikasi yang bisa diunduh secara bebas baik yang berbayar maupun
gratisan.
Pengoperasian Android bekerja dengan adanya kontak
langsung oleh penggunanya, yaitu dengan memberikan sentuhan pada layar,
sentuhan itu akan ditanggapi secara cepat layaknya kita menyentuh di permukaan
air. Bahkan terkadang ada getaran tertentu dari hasil sentuhan itu sebagai
respon yang diberikan oleh OS kepada penggunanya. Giroskop, sensor proksimitas,
serta akselerometer adalah beberapa hardware sebagai pelengkap OS ini yang
mampu merespon tindakan-tindakan user, seperti mengubah layar menjadi landscape
maupun portrait, atau digunakan untuk menyetir kendaraan pada beberapa
permainan tertentu. Android dikembangkan secara pribadi oleh Google
sampai perubahan terbaru dan pembaruan siap untuk dirilis, dan informasi
mengenai kode sumber juga mulai diungkapkan kepada publik.
Kode sumber ini hanya akan berjalan tanpa modifikasi pada perangkat tertentu,
biasanya pada seri Nexus. Ada binari
tersendiri yang disediakan oleh produsen agar Android bisa beroperasi.
Logo
Android yang berwarna hijau awalnya dirancang untuk Google pada tahun 2007 oleh
desainer grafis Irina Blok.[76][77][78]
Tim desain ditugaskan dengan sebuah proyek untuk membuat sebuah ikon universal
yang mudah dikenali dengan menyertakan ikon robot secara spesifik
dalam desain akhir. Setelah sejumlah perkembangan desain yang didasarkan pada
tema-tema fiksi ilmiah dan film luar angkasa, tim
akhirnya mendapat inspirasi dari simbol manusia yang terdapat di pintu toilet,
dan memodifikasi bentuknya menjadi bentuk robot. Karena Android adalah
perangkat lunak sumber terbuka, disepakati bahwa logo tersebut
juga harus terbuka, dan sejak diluncurkan, logo hijau tersebut telah didesain
ulang kembali dalam berbagai variasi yang tak terhitung jumlahnya.
Google menyediakan pembaruan utama bagi versi
Android, dengan jangka waktu setiap enam sampai sembilan bulan. Sebagian besar
perangkat mampu menerima pembaruan melalui udara (OTA). Pembaruan utama terbaru adalah Android 4.4 KitKat.
Dibandingkan dengan sistem operasi seluler saingan utamanya, yaitu iOS, pembaruan Android biasanya lebih lambat diterima oleh perangkat
penggunanya. Untuk perangkat selain merek Nexus, pembaruan biasanya baru bisa
diterima dalam waktu berbulan-bulan setelah dirilisnya versi resmi. Hal ini
disebabkan oleh banyaknya variasi perangkat keras Android,
sehingga setiap pembaruan harus disesuaikan secara khusus, misalnya: kode
sumber resmi Google hanya berjalan pada perangkat Nexus. Porting Android
pada perangkat keras tertentu yang dilakukan oleh produsen telepon seluler
membutuhkan waktu dan proses, para produsen ini umumnya mengutamakan perangkat
terbaru mereka untuk menerima pembaruan, dan mengenyampingkan perangkat lama.
Oleh sebab itu, telepon pintar lama seringkali tidak diperbarui jika produsen
memutuskan bahwa itu hanya menghabiskan waktu, meskipun sebenarnya perangkat
tersebut mampu menerima pembaruan. Masalah ini diperparah ketika produsen
menyesuaikan Android dengan antarmuka dan aplikasi ciptaan mereka, yang mana ini
harus diterapkan kembali untuk setiap perilisan terbaru. Penundaan lainnya juga
bisa disebabkan oleh operator nirkabel; setelah menerima pembaruan dari
produsen ponsel, operator akan menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka,
misalnya melakukan pengujian ekstensif terhadap jaringan sebelum mengirim
pembaruan kepada pengguna.
Kurangnya dukungan pasca-penjualan dari produsen
ponsel dan operator telah menimbulkan kritikan dari para konsumen dan media
teknologi. Beberapa pengkritik menyatakan bahwa industri memiliki motif
keuangan untuk tidak memperbarui perangkat mereka, seperti tidak adanya
pembaruan bagi perangkat lama dan memperbarui perangkat yang baru dengan tujuan
meningkatkan penjualan, sikap yang mereka sebut "menghina". The Guardian melaporkan
bahwa metode pembaruan yang rumit terjadi karena produsen ponsel dan
operator-lah yang telah merancangnya seperti itu. Pada 2011, Google, yang
bekerjasama dengan sejumlah perusahaan industri, membentuk "Android Update
Alliance", dengan janji bahwa mereka akan memberikan pembaruan secara
tepat waktu bagi setiap perangkat dalam jangka 18 bulan setelah dirilisnya
versi resmi. Sejak didirikan hingga tahun 2013, organisasi ini tak pernah
disebut-sebut lagi. Google kemudian mulai memperbarui aplikasinya, termasuk Google Maps dan Google Play Music, sebagai
aplikasi independen yang terpisah dari Android, dan juga memperkenalkan
komponen tingkat-sistem yang menyediakan API bagi aplikasi Google, yang terpasang otomatis dan diperbarui secara
langsung oleh Google melalui Google Play, serta
mendukung hampir semua perangkat Android dengan versi di atas 2.2
Perusahaan
riset Canalys memperkirakan bahwa pada kuartal kedua 2009, Android memiliki
pangsa penjualan telepon pintar sebesar 2,8% di seluruh dunia. Pada kuartal
keempat 2010, jumlah ini melonjak menjadi 33%, menjadi platform
telepon pintar terlaris di dunia. Hingga kuartal ketiga 2011, Gartner
memperkirakan lebih dari setengah (52,5%) pasar telepon pintar global dikuasai
oleh Android. Menurut IDC, pada kuartal ketiga 2012, Android menguasai 75% pangsa
pasar telepon pintar global. Pada bulan
Juli 2011, Google mengungkapkan bahwa terdapat 550.000 perangkat Android baru
yang diaktifkan setiap harinya, meningkat dari 400.000 per hari pada bulan Mei,
dan secara total, lebih dari 100 juta perangkat Android telah diaktifkan di
seluruh dunia, dengan pertumbuhan 4,4% per minggu. Pada bulan September 2012,
500 juta perangkat Android telah diaktifkan, dengan 1,3 juta aktivasi per hari.
Pada Mei 2013, di Google I/O, Sundar Pichai
mengumumkan bahwa total perangkat Android yang telah diaktifkan berjumlah 900
juta. Pangsa pasar Android bervariasi menurut lokasi. Pada bulan Juli 2012,
pangsa pasar Android di Amerika Serikat adalah 52%, dan meningkat
hingga 90 % di RRT.
Selama kuartal ketiga 2012, pangsa pasar telepon pintar Android di seluruh
dunia adalah 75%, dengan total perangkat yang diaktifkan berjumlah 750 juta dan
1,5 juta aktivasi per hari.
Pada
bulan Maret 2013, pangsa Android di pasar telepon pintar global dipimpin oleh
produk-produk Samsung, yakni sebesar 64%. Perusahaan riset pasar, Kantar,
melaporkan bahwa platform besutan Google menyumbang lebih dari 70% dari seluruh
penjualan perangkat telepon pintar di RRT selama periode ini. Masih pada
periode yang sama, tingkat loyalitas terhadap penggunaan produk-produk Samsung
di Inggris
(59%) adalah yang tertinggi kedua setelah Apple (79%). Hingga November 2013,
pangsa pasar Android dikabarkan telah mencapai 80%. Dari 261,1 juta telepon
pintar yang terjual pada bulan Agustus, September, dan Oktober 2013, sekitar
211 juta di antaranya adalah perangkat Android. Tabel di bawah ini menampilkan
data mengenai persentase jumlah perangkat Android yang mengakses Google Play
baru-baru ini, dan menjalankan platform Android versi tertentu hingga tanggal 9 September
2014. Android 4.1/4.2/4.3 Jelly
Bean adalah versi Android yang paling banyak digunakan, yakni sekitar 53,7%
dari keseluruhan perangkat Android di seluruh dunia:
|
Versi
|
Nama kode
|
Tanggal
rilis
|
Level API
|
Distribusi
|
|
15 Oktober
2014
|
21
|
|||
|
31 Oktober
2013
|
19
|
24,5%
|
||
|
24 Juli
2013
|
18
|
8%
|
||
|
13
November 2012
|
17
|
20,7%
|
||
|
9 Juli
2012
|
16
|
25,1%
|
||
|
16
Desember 2011
|
15
|
9,6%
|
||
|
15 Juli
2011
|
13
|
|||
|
10 Mei
2011
|
12
|
|||
|
9 Februari
2011
|
10
|
11,7%
|
||
|
6 Desember
2010
|
9
|
|||
|
20 Mei
2010
|
8
|
0,7%
|
||
|
26 Oktober
2009
|
7
|
|||
|
15
September 2009
|
4
|
|||
|
30 April
2009
|
3
|
Ada
beberapa kekhawatiran mengenai mudahnya aplikasi berbayar Android untuk dibajak.[185]
Pada bulan Mei 2012, Eurogamer, pengembang Football
Manager, menyatakan bahwa rasio pemain bajakan vs pemain asli adalah
9:1 pada permainan buatan mereka. Namun, tidak semua pengembang
mempermasalahkan tingkat pembajakan ini; pada Juli 2012, pengembang permainan
Wind-up Knight mengungkapkan bahwa tingkat pembajakan pada permainan mereka
hanya 12%, dan sebagian besarnya berasal dari Cina, negara yang pengguna
Androidnya tidak bisa membeli aplikasi dari Google Play. Pada 2010, Google
merilis sebuah alat yang berfungsi memvalidasi pembelian resmi untuk digunakan
dalam aplikasi, tetapi pengembang mengeluh bahwa hal itu tidak cukup efisien.
Google menjawab bahwa alat tersebut dimaksudkan sebagai kerangka sampel bagi
para pengembang untuk memodifikasi dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan
mereka, bukan sebagai solusi untuk mengakhiri pembajakan. Pada tahun 2011,
Google memperkenalkan "Android@Home", teknologi otomatis baru yang
memanfaatkan Android untuk mengontrol beberapa alat-alat rumah tangga seperti
kontak lampu, soket listrik, dan termostat. Mengontrol lampu dikatakan dapat
dikendalikan dari ponsel atau tablet Android. Pimpinan Android Andy Rubin
menegaskan bahwa "menyalakan dan mematikan lampu bukanlah hal yang baru,
Google berpikir lebih ambisius dan tujuannya adalah untuk menggunakan posisinya
sebagai penyedia jasa awan guna membawa produk-produk Google ke rumah
pelanggan."
Pada
bulan Agustus 2011, Parrot meluncurkan sistem stereo mobil dengan platform
Android, yang dikenal dengan Asteroid dan dilengkapi dengan perintah suara.
Pada September 2013, Clarion merilis sistem stereo mobil dengan platform
Android yang lebih maju, yang dikenal dengan AX1 dan Mirage, menggunakan
Android 2.3.7 dan 2.2 (Gingerbread) dan dilengkapi dengan navigasi berbasis GPS, layar 6,5 inci, dan
berbagai pilihan untuk akses data nirkabel. Berbagai perangkat lainnya,
meskipun tidak menggunakan Android, juga dirancang dengan antarmuka yang
berfungsi sebagai pendamping atau pelengkap bagi perangkat Android, misalnya SmartWatch
Sony atau Galaxy Gear Samsung. Pada
tahun 2012, Google merilis sebuah fitur dalam Android 4.1 yang mengenskripsikan
aplikasi berbayar sehingga aplikasi tersebut hanya bisa berjalan pada perangkat
tempat mereka dibeli, namun fitur ini dinonaktifkan untuk sementara karena
masalah teknis. Baik Android maupun produsen ponsel Android telah terlibat
dalam berbagai kasus hukum paten. Pada tanggal 12 Agustus 2010, Oracle menggugat Google atas tuduhan
pelanggaran hak cipta dan paten yang berhubungan dengan bahasa pemrograman Java. Oracle awalnya menuntut ganti rugi
sebesar $6,1 miliar, namun tuntutan ini ditolak oleh pengadilan federal Amerika
Serikat, yang meminta Oracle untuk merevisi gugatannya. Sebagai tanggapan,
Google mengajukan beberapa pembelaan, mengklaim bahwa Android tidak melanggar
paten atau hak cipta
Oracle, bahwa paten Oracle tidak valid, dan beberapa pembelaan lainnya. Pihak
Oracle menyatakan bahwa Android berbasis pada Apache
Harmony, implementasi clean room
perpustakaan kelas Java, dan secara independen mengembangkan mesin virtual yang
disebut Dalvik. Pada bulan Mei 2012, juri dalam
kasus ini menemukan bahwa Google tidak melanggar paten Oracle, dan hakim memutuskan
bahwa struktur API Java yang digunakan oleh Google tidak memiliki hak cipta.
Selain
tuntutan secara langsung terhadap Google, berbagai "perang proksi"
juga dilancarkan terhadap Android secara tidak langsung dengan menargetkan
produsen perangkat Android, dengan tujuan untuk memperkecil peluang produsen
tersebut mengadopsi platform Android dan meningkatkan biaya peluncuran produk
Android ke pasaran. Apple dan Microsoft
menggugat beberapa produsen perangkat Android terkait masalah pelanggaran
paten; tuntutan Apple yang berkepanjangan terhadap Samsung menjadi kasus yang
sangat terpublikasi. Pada Oktober 2011, Microsoft mengungkapkan bahwa mereka
telah menandatangani perjanjian lisensi paten dengan sepuluh produsen ponsel
yang produk-produknya menguasai 55% pasar global perangkat Android, termasuk Samsung
dan HTC.[198]
Kasus pelanggaran paten antara Samsung dan Microsoft berakhir dengan
kesepakatan bahwa Samsung akan mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk
mengembangkan dan memasarkan ponsel dengan sistem operasi Windows Phone
besutan Microsoft.
Google
secara terbuka menyatakan kefrustrasiannya dalam menghadapi gugatan pelanggaran
paten di Amerika Serikat, menuduh bahwa Apple, Oracle, dan Microsoft sedang
berupaya untuk melemahkan kedigjayaan Android melalui litigasi paten, alih-alih
berinovasi dan bersaing dengan cara menciptakan produk dan layanan yang lebih
baik. Pada 2011-2012, Google membeli Motorola
Mobility seharga $12,5 miliar. Upaya ini dipandang sebagai langkah
pertahanan Google untuk melindungi Android, karena Motorola Mobility memegang
lebih dari 17.000 hak paten. Pada Desember 2011, Google juga membeli lebih dari
seribu paten dari IBM.
Pada 2013, Fairsearch, sebuah organisasi yang didukung oleh Microsoft, Oracle,
dan lainnya, mengajukan keluhan terhadap Android pada Komisi Eropa,
menyatakan bahwa distribusi perangkat Android yang bebas biaya merupakan bentuk
persaingan harga anti-kompetitif. Free Software Foundation Europe,
yang didonori Google, membantah tuduhan Fairsearch. Sifat Android yang terbuka
dan bisa dikustomisasi menyebabkan sistem operasi ini juga digunakan pada
perangkat elektronik lainnya, termasuk laptop dan netbook,
smartbook, Smart TV (Google TV),
dan kamera
(Nikon Coolpix S800c dan Galaxy Camera).
Selain itu, sistem operasi Android juga mengembangkan aplikasinya pada kacamata
pintar (Google Glass),
jam tangan, penyuara kuping, CD mobil dan pemutar DVD, cermin, pemutar media portabel, jaringan
tetap,[211]
dan telepon VoIP.
Ouya, sebuah konsol
permainan video yang menggunakan sistem operasi Android, menjadi salah satu
produk Kickstarter
yang paling sukses, didanai sebesar $8,5 juta untuk pengembangannya, yang
kemudian diikuti oleh konsol permainan video berbasis Android lainnya seperti Project Shield besutan Nvidia.
Sumber:
2. http://id.wikipedia.org/wiki/Android_%28sistem_operasi%29